Description :
Saya teringat Balawan, iya, salah satu empu dawai dari Bali. Jika tidak salah cerita, Balawan mulai mengenal gitar pada usia awal tigapuluhan. Ini tidak biasa. Yang menjadi tidak biasa adalah bahwa beliau benar-benar mengenal alat musik satu itu pada usia yang matang, tak seperti kebanyakan para gitaris yang sudah akrab duluan di masa remaja. Saya mengenal gitar sejak era bangku sekolah. Waktu itu tetangga saya Mang Yuli, anak guru olahraga SMPN 16 Bandung, Pak Sardjo, mengenalkan saya pada alat satu ini. Gitar Mang Yuli itu bahkan terlalu besar untuk ukuran anak SD seumuran saya. Saban hari karena sering berkumpul -di beranda belakang rumah Ibu Komis, teman nenek- dan mendengarkan Mang Yuli versus Aa Iyan duel bermain lambat laun Mang Yuli pun mengenalkan saya pada harmoni enam senar tersebut. Sesederhana mungkin. Dua tahun kemudian ketika memasuki sekolah menengah pertama saya dibelikan gitar pertama. Akustik lokal di salah satu toko olahraga kitaran Jembar-Cicadas,"Hayu A' urang ameng." Ayah saya mengajak saya berjalan-jalan sore tanpa memberitahu agenda detil. Pikir saya biasanya nyari cemilan lokal khas pasar tradisional : bisa dukuh, bakso Lotus, dan surge kuliner lainnya sudah dalam incaran angan. Saya pun meng-iya-kan tanpa tahu agenda sore itu karena sudah memikirkan agenda-todongan ketika kesempatan sepeti itu tiba. Sampai pada satu langkah, kami berada tepat di depan toko olahraga serba ada. Karena isinya komplit dengan peralatan pancing, celana dalam, sepatu, hingga tetek bengek lainnya. Jembar-Cicadas masih rame, bioskop gerimis-bubar Taman Hiburan, Ramayana, Kandaga Billyard masih bergeliat, preman gang siap memalak watandos-wajah tanpa dosa, jongko merpati hingga Kengkong, si bandar hewan piaraan termasyur. Komplit berserta bau amis tinja hewan, aroma pasar dan emisi karbon yang mengantri laju dengan bising klakson. Beberapa waktu lalu saya pertama kali melihat Manuk Dadali di depot hewan si Enkoh ini, ketika dengan sengaja iseng ngidam menengok keadaan disana. Pikir saya, serasa berdosa sering melewati sebuah area tanpa tenggelam dengan Pernik yang ada. "Sok tujuhlima bungkus ayeuna. Isuk saratus limapuluh, bade?" Tanpa basa-basi si Kenkong menodong saya yang dari tadi memperhatikan sekandangan burung. Burung yang asing, baru saya lihat di moment tersebut. Burung ini mungkin akan menjadi mitos beberapa dekade ke depan di tanah kelahirannya sendiri dan hanya akan dikenang lewat lagu Sambas Mangundikarta. Akhirnya saya mengetahui jenis burung itu dari pengunjung yang sepertinya penggemar burung mania. Bungkusan coklat berbolong-bolong berisi kenari baru saja dibayarnya ke si Kengkong dalam kepalan. Saya sampai menanyakan beberapa kali apa benar itu Manuk Dadali, kepada si Engkoh juga pelanggan tetapnya yang telah membungkus dua ekor kenari. Saya menatap lama Dadali ini. Karena nyatanya bagi saya burung ini memang sudah menjadi mitos. Populasinya pun tak tahu pasti. Pelanggan si Engkoh coba meyakinkan jawab saya, "Muhun A', pami teu leupat mah eta teh Dadali." "Duh, murah nyak? Tapi da urang nyimpen dimana? Asa teu wasa ninggali manuk kieu alus dikurungan." Saya menimpali sekenanya jika burung bagus tersebut sangat murah serta tidak tega jika mereka hanya menjadi hiasan sangkar. Lurusan Cikaso-Jembar-Cicadas adalah ruas satu jalan bernama Jl. Jend., Ahmad Yani. Bisa jadi Deddy Stanzah terinspirasi ketika sama-sama JJS karena rumah dan kerabatnya ada di wilayah ini. Juga, mungkin, Remy Sylado yang terinspirasi ketika melintasi Gang Son Pung selain Jalan Tamblong dalam berkarya. Rata-rata sudah dua-tiga generasi pedagang di wilayah ini bertahan. termasuk toko olahraga-musik dimana saya mendapatkan kejutan jalan-jalan sore itu. Semua tumpah disini. Palugada : Apa yang lu cari gua ada. Girangnya saya ketika jalan sore itu di wilayah tersebut. Dengan menunjuk sembarang gitar saya pun seenak udel memohon. Kepincut dawai yang diidamkan tapi ayah saya mengingatkan isi dompet. Saya pun takluk dengan Allegro, merk lokal yang hemat di kantong dan popular di mata handai taulan di eranya. Lengkap dengan sarung kulit sintetisnya pula. Yay! Kami pun beranjak pulang sore bersejarah itu. Bakso Lotus, sirop, panta dan seprit tidak saya hiraukan. Nada gitar saya setem ulang di standar nada C dengan intuisi trial and error. Dan seharian saya bermain hingga kegirangan seakan tak ada hari esok. Ini mungkin sama halnya ketika sepasang kekasih yang sedang dipacu asmara. Cukup kunci kamar lalu sematkan hangtag : Please do not disturb, we're on heavy discussion! Itu peristiwa 2 dekade ke belakang. 90-an sangat awal. White Lion, Iron Maiden, Cradle of Filth, Sylvia Saartje, Nike Ardilla, Rudal, dan tentunya the mighty Amy Search you may name it! Kepertamaan memang selalu mengairahkan, gitar atau apapun itu berkenaan dengan musik saya konsumsi dengan mentah. Progresi tangga nada tidak banyak yang saya kenali baik secara teori. Berusaha mencebur diri begitu saja dengan suara dawai yang magis. Menyingkirkan teknis. Menikmati pesan auditif musik dengan cukup dengan rasa. Pengaruh lingkungan punya peran dalam faset pembelajaran tersebut. Iwan Fals tentu menjadi daftar putar pertama yang wajib dikulik via akustik. Atau Black-nya Metallica bagi yang sudah mahir yang sekaligus petanda pride untuk unjuk gigi diantara gitaris brang-breng-brong dalam gang. Heavy Metal di era Sembilan puluh sedang lesu, dibom dengan suara dari Seattle. Sihir rock ugal-ugalan tampil mendekonstruksi tatanan kanon bermusik yang centil dengan pakem. Tidak hanya dalam skala komunitas, tapi industri. Sang Nabi baru Kurt Donald Cobain hadir dari persemayaman dan berkhotbah dengan syair gelap cum depresif. Gaya hidup polesan dalam tatanan media dan industri diludahi dengan penanda penghancuran instrumen bermusik oleh trio Kurt-Grohl-Novoselic ini. Seakan mereka bertasbih, ?Ini firman penghancuran kemunafikan. Bergembalalah bersamaku.? Mereka jawab hipokrisi tepat di depan kamera bahkan ketika penampilan langsung. Tak sungkan bogem mentah menghajar petugas keamanan yang dianggap sok protokoler ketika distorsi sedang meraung. Mungkin rock memang tak perlu gincu, tak perlu formalitas. Hajar saja seperti roda melindas jalanan. Generasi pop 90 mungkin akan dianggap aneh jika mendengar sejenis Hawkwind atau ramuan Profesor Fripp yang menerawang. Seperti halnya generasi paska milenia di skena komunitas akan dianggap aneh jika tidak ber-deathmetal-ria atau tidak ber-kpop-style. Redudansi sebagai musisi amatiran versi reka ulang di panggung tujuh belasan berjumawa ketika dapat membawakan Smells like teen spirits, Jeremy, atau yang terbaru seperti All over you versi Kowalczyk secara presisi. Bangga ketika timbre Graffin muda diakuisisi dengan nada penuh beserta borongan seabreg melodi-rima dari No Control, Against the Grain and Generator. McLaren pun akan tersenyum jika mengetahui rancang budaya tanding via gaya hidup a la busana dengan gembok sebagai mata berlian dari rantai terkalung di leher para jemaat skena Bandung. Boots tentara menjadi pilihan primer sebagai subtitusi dari Dr. Martens original yang masih borjuis bagi pentasbih jalur underground. Dangdos busana produk Fruit of the loom juga menjadi penanda jemaat yang mabrur serta shahih ketika sablon bajakan merajalela. ?Maneh nyaho si Cobain paeh minggu kamari?? teman sekelas saya Marwan bertanya. Dengan karya mumpuni seharusnya hal tersebut bukan menjadi alasan masa-masa seperti ABG labil prematur jawab saya, ?Enya modar! Padahal naon nu ditengan deui, album aralus.? Di masa ini saya nge-jam dengan tetangga belakang rumah, Fatur alias Deden anak Bu Ajum. Lalu dengan Robby juga Tammy di RAT belajar mengaplikasikan suara dari Aberdeen di Cicadas. Ada Konspirasi yang diberkati si Kutilista bersama Cendol dan si Bolot. Lainnya hanya nge-jam urakan. Tanpa karya, tapi saya kira kami senang?gembira-ria saja sembari mengkorupsi jam sekolah, membolos di Ditto Ditty atau Legend-Cikutra. Rokok dan, ya begitulah anak sekolah? Beberapa minggu lalu saya melihat gitar akustik pertama itu. Lusuh. Fret tembaga sudah sebagian rata dengan badan fret. Dan karena senar satu tidak pernah singkron dengan lima lainnya walhasil saya museumkan di atas almari kamar. Sekira sedekade mungkin. Kemudian saya lihat gitar akustik yang baru dipesan adik saya di builder lokal kitaran Suci. Ada rasa rindu tentunya ketika mulai memainkan kembali dawai tersebut untuk pertama kali. Rasa penasaran ini yang kemudian menelisik keingintahuan saya selanjutnya. Oh well, senar gitarnya agak keras karena tangan sudah tidak bebal kakapaleun ?biasanya yang terbiasa bermain gitar kulit ari terluar jemari akan menebal. Nampak geuleuh memang tapi justru disitulah positifnya ketika jemari kita akan mulai menaklukan senar yang ada. Ingatan memasuki alam tuna-nada, saya tidak hafal satu pun chord lagu yang pernah saya buat atau setidaknya lagu-lagu dulu yang sering dibawakan. Tapi akhirnya saya putuskan untuk mulai memainkannya lagi seperti dahulu kala. Menenggelamkan bersama suara dan rasa, menihilkan formalitas seperti biasa. Angkat gitarnya, play record, dan Arbitrary prologue of simplicity [1st note, post a decade of silences] - Accoustic Demo Version mungkin track pertama yang pernah saya buat serta direkam setelah hibernasi satu dekade tanpa menjelajah enigma magis suara gitar. Dari cerita Balawan, maka determinasi dan disiplin adalah jawaban dari kesuksesan ketika membuat karya. Ini dapat diaplikasikan dalam terma apapun. Bukan hasil akhir tapi proses yang menjadikan kualitas. Perihal gitar saya berhutang inspirasi pada Balawan dan Steve Job atas Voice memos. PS : Silahkan unduh bebas dan reka-ulang singlenya sesuka hati. Mari bersinergi dalam karya. Salam.
0 comments:
Post a Comment